Dealing with…

It’s been over a year i’m dealing with panic attack

Satu tahun ke belakang ini kualitas hidupku lumayan atau bahkan bisa dibilang sangat terganggu dengan datangnya panic attack yang hingga detik ini masih kuterka-terka asal muasalnya darimana dan bagaimana(?). Jujur saja, banyak spekulasi bermunculan dipikiranku. Sebentar i agreed with the reasons kemudian aku sangkal. Terus saja begitu hingga akhirnya aku berakhir pada kesimpulan: hidupku terasa berantakan.

Fakta yang aku rasakan, mengalami gangguan kecemasan jauh lebih sulit diutarakan ketimbang menggambarkan bagaimana sakit lambung yang kerap kambuh setelah aku kedapatan gerd karena efek covid. Setiap kali serangan panik itu datang, yang dapat aku lakukan hanya mematung kemudian menerapkan teknik bernafas bekal ilmu dari mbah google dan masukan dari beberapa psikolog telemidisin yang kuhubungi via halodoc. Hasilnya? Kadang berhasil, kadang kewalahan, dan pahitnya bisa saja tidak berhasil sama sekali hingga rasa cemas itu berubah menjadi rasa sempit, sesak dan seperti dicekik. Dan semua itu tentu rasanya super duper tidak nyaman dan menakutkan.

Hal pertama yang dapat kulakukan selain bertanya kepada psikolog via halodoc yaitu mencoba terbuka dan berani menceritakan keluhanku ini kepada orang terdekat. Siapa lagi kalau bukan suamiku. Meski rasanya sangat berat dan ada perasaan tidak percaya diri bahwa oranglain dapat menerima jika yang tengah aku lalui ini adalah kenyataan dan masuk akal. Karena akupun pada saat itu merasa semuanya tidak masuk akal. But finally i told him. Responnya? Diluar ekspektasiku tapi aku merasa ada perasaan cukup di dadaku. At least, saat aku mengalami panic attack dia sudah ngeuh dan akan mengikuti apa maunya aku. Sampai hari ini waktu hal itu terjadi, i just need him to hold my hand. Enough.

Kemudian sampailah aku pada keputusan untuk datang menemui psikolog karena merasa semua yang aku usahakan untuk terlepas dari gangguan cemas ini sia-sia. Bisa saja karena aku salah teknik, kurang pengetahuan mengenai hal-hal seperti ini atau mungkin semua alasan yang kerap kali kutebak bisa saja tidak ada yang benar alias salah besar.

Beberapa waktu lalu aku sudah atur rencana untuk datang ke salah satu psikolog yang direkomendasikan oleh temanku, namun rupanya tak semudah itu untuk melangkah maju lebih jauh lagi. Jujur saja, aku seringkali bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan yang aku ajukan kepada diriku sendiri. I always wonder, “do i need this? is my problem that big? ini perasaan ajakah? did i too much?!“. Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang membuatku maju mundur kemudian cancel all my plan untuk konseling. Semua terasa baik-baik saja sampai serangan panik itu datang lagi dan membuat tekadku yang sudah setengah lingkaran menjadi bulat sempurna lagi.

Meski tekad sudah sebulat bola basket, aku tetap jalan ditempat karena perintah maju masih diblock oleh pikiran-pikiran-did i too much-tadi. Tapi rupanya pepatah ‘banyak jalan menuju roma’ itu ada benarnya, satu minggu ke belakang ada email masuk dari bagian SDM di kantorku yang menawarkan free virtual counseling dengan beberapa psikolog yang dapat aku pilih sesuai concern mereka. Dan alhamdulillah ada psikolog yang concern di gangguan kecemasan yang salah satunya adalah panic attack yang sering aku alami. Well, tanpa berpikir panjang lagi saat itu aku langsung daftar dan tentukan jadwal. I was excited and a lil’ bit nervous of course.

Hari H Konseling.

Lagi-lagi. Aku bertanya-tanya apakah aku butuh? Sesi konseling hanya satu jam dan saat itu aku terus mengundur waktu. Suamiku mencoba terus support, he said, it’s okay anggap ini ikhtiar. Aku insecure dengan masalahku sendiri. Dan akhirnya siap tidak siap konseling pun dimulai dengan waktu sudah lewat 20 menit. Rupanya tidak semudah itu fernando~ mengumpulkan keberanian untuk terbuka tidaklah segampang membalikan telapak tangan.

Semuanya berjalan awkward bagiku, tapi tidak bagi si mbak psikolog yang cantik itu. Aku berkali-kali bilang, “i feel weird” kemudian dia selalu bilang, “that’s okay, normal”. Aku cukup struggling untuk membuka semua keluhan, masalahku dan juga alasan-alasan yang menurutku menjadi pemicu semua ini terjadi. Hal-hal yang menurutku tidak masuk akal kusampaikan, meski tidak semua karena pikiranku masih ter-block oleh kalimat “too much” yang kulabeli sendiri. Kusampaikan bahwa aku belum merasa lega, aku merasa kurang nyaman dan masih merasa aneh membicarakan semua ini dengan stranger, padahal jelas-jelas dia ini adalah tenaga profesional. But she’s not mind and apreciate karena aku sudah sadar bahwa aku perlu dia dan berani bertemu dan menceritakan masalahku.

Kesimpulan yang dapat aku ambil dari konseling virtual kemarin yang paling pertama adalah never think that u’re too much, because u’re not! Psikolog berkali-kali reminder, kamu nggak lebay, yang kamu rasakan adalah wajar dan nyata. Jadi singkirkan pikiran-pikiran itu, kalau masih sulit menyingkirkan seperti yang aku alami, fight that feeling aja…! Memang akan sangat tidak nyaman tapi pasti bisa dilewati. Bahkan hingga detik ini perasaan tersebut masih bersarang dan sulit disingkirkan, tapi aku masih tetap melawan dan menyadarkan diri sendiri kalau semua itu tidak lebay. Tidak sama sekali.

Kemudian: meditasi. Sejujurnya saran meditasi ini sudah kudapatkan dari psikolog telemidisin. Dan rasanya sulit sekali untuk mempraktekan meditasi tanpa pendampingan, tapi tetap kucoba lakukan dengan dibantu aplikasi meditasi-riliv nama aplikasinya-yang kuperoleh dari appstore. Hingga akhirnya mbak psikolog kemarin memberitahu salah satu teknik menangani kecemasan yaitu: five grounding atau lebih gampangnya kusebut 54321. Teknik ini dapat menjadi salah satu caraku untuk meditasi. Caranya terdengar sederhana tapi tidak semudah yang dibayangkan, yaitu menyebutkan lima benda yang kulihat, empat hal yang kuraba, tiga hal yang kudengar, dua hal yang hidungku cium dan satu hal yang lidahku rasa. Dan semuanya harus dilakukan dalam suasana tenang, nyaman, rileks dan fokus. Honesty untuk saat ini aku rasa aku belum melakukan teknik ini dengan benar, atau belum mendapatkan waktu yang tepat untuk mempraktekannya. Next time aku ingin sharing bagaimana teknik 54321 ini perkembangannya di diriku. Hopefully it works on me.

Cara selanjutnya adalah membuang seluruh ‘sampah’ yang tertimbun didalam diri. Yes! Jadi manusia positif adalah baik tapi jangan sampai malah jadi toxic positivity, begitu katanya. Semua rasa duka, rasa tidak menyenangkan, semua itu harus dibuang. Jadi PR-ku adalah membuang sampah-sampah tadi. Bersedih, menangis, ungkapkan seluruh perasaan, validasi segala macam rasa yang muncul. Jangan memaksa melupakan peristiwa menyakitkan yang menimpa kita, karena pada akhirnya kita tidak benar-benar melupakan melainkan memendam. Untuk beberapa saat penjelasan psikolog mengenai satu hal ini terdengar sulit ditangkap logika, tapi sedikit-sedikit aku mulai paham dan mencoba untuk mengikuti, melakukan alur yang sedang mbak psikolog berikan kepadaku. Dia sedang mengulurkan tangan untuk menolong dan tugasku adalah meraih tangannya agar tidak jatuh terlalu curam, bukan? Jadi, i’ll try again and again.

Tugas terakhir adalah minta bantuan orang terdekat. Jangan pendam semua sendirian, at least orang terdekatku ada disampingku saat panic attack itu datang. Seperti yang aku bilang sebelumnya, i just need him to hold my hand and that’s enough. Memang tidak mudah bagiku untuk terbuka hal semacam ini, but in the end we always need someone’s help.

Fiuhhh~ it’s not easy tapi aku harus terus belajar, berusaha dan sehat lahir batin. Semakin dewasa aku semakin sadar bahwa harta paling berharga adalah kesehatan dan ketenangan jiwa.

Tbh i still wanna sharing about this topic. Hitung-hitung sebagai salah satu cara untuk ‘buang sampah’ yang ada dalam diri. Yap, psikolog bilang “if u can’t tell, u can write”. Jadi mungkin kedepannya akan banyak sekali curcolan hamba yang too much but not too much ini, ehe.

Well, i’m still dealing with this all unpleasant thing, unpleasant feeling, tapi semoga kita semua dapat meraih kesehatan lahir batin, tidak memaksa diri kita untuk selalu jadi manusia paling positif karena yang paling penting adalah mengakui bahwa kita tidak selamanya kuat, tidak selamanya dapat bahagia dan kita hanyalah manusia yang masih perlu banyak belajar untuk semua hal itu. Belajar kuat, bahagia, belajar menerima kesedihan, mengelola perasaan, kita semua manusia yang tentu saja tidak akan pernah sempurna.

Sudah dulu, yaa! Semangat! *peluk diri sendiri*

Dua Ribu Dua Dua

Hebat. Adalah kata yang cukup mewakili hidupku selama setahun kemarin. Aku sanggup melewati hari demi hari yang sulit. Yap! 2021 adalah tahun yang cukup sulit bagiku, karena aku harus bergulat dengan panic attack yang acap kali datang, kemudian banyak sekali malam-malam kulewati dengan penuh kegelisahan dan kecemasan. Sebabnya? Masih kuterka-terka. Dan semua hal itu cukup membuatku merasa de.presi. Tapi mungkin saja terkaanku salah, dan mungkin saja tepat!? Tapi yang paling kusyukuri adalah aku mampu melewati semuanya.

Tidak ada perayaan malam tahun baru. Ajakan tetangga kutolak baik-baik karena aku tidak nyaman dengan keramaian, tapi kuizinkan suamiku untuk ikut kumpul-kumpul dengan mereka, anggap saja sebagai perwakilanku, ehe. Dan ya, hingga detik ini aku masih menjadi manusia introvert.

Dan, insecure.

Maka dari itu, di tahun ini aku punya resolusi untuk mulai care lebih banyak lagi terhadap diriku sendiri. Aku ingin membuat jiwa dan ragaku sehat. Aku akan mulai mengatur pola hidup sehat dan mulai mengambil langkah untuk konsultasi dengan tenaga profesional perihal panic attack yang cukup menggangguku, agar akupun dapat lebih efektif lagi mengobati banyak hal seperti.. luka? trauma? whtvr it calls! Yang sulit dilupakan atau mungkin aku tak sadar bahwa aku memilikinya (?). Terlebih aku ingin meminimalisir dampak-dampak yang timbul karena kondisi mental yang tidak baik-baik saja. Aku ingin lebih tenang menjalani (keruwetan) kehidupan ini.

2022. Aku harus jauh lebih baik lagi.

Well, nggak ada lagi yang mau aku tulis. Sekadar absen saja di hari pertama di tahun baru.

Wish us all the best, bestie! Luvs.

Tidak semua orang

Berani bercerita mengenai kesehatan mental kita kepada oranglain adalah hal yang patut dihargai menurutku. Karena tidak semudah itu untuk seseorang dapat terbuka apalagi membicarakan persoalan mentalnya yang sedang tidak baik-baik saja.

Namun rupanya tidak semua orang juga dapat mengerti dengan kondisi yang tengah dialami oleh kondisi kesehatan mental oranglain. Sebagian menyepelekan dan kebanyakan menganggap bahwa itu berlebihan. Padahal mereka tidak tahu jatuh bangun untuk tetap waras dan betapa sengsaranya orang tersebut melalui itu semua.

Sore kemarin aku menolak ajakan seseorang dengan alasan akan pergi ke psikiater. Kemudian dijawabnya, “dari diri sendiri deh say”. Aku termenung beberapa saat, logikaku terpaksa berpikir “apakah aku saja yang berlebihan?”, kemudian aku mulai mengetik balasan chatnya kemudian kuhapus kemudian kuketik lagi, terus saja begitu. Ingin rasanya kumuntahkan semua isi hati dan menjelaskan betapa tersiksanya aku, betapa sulitnya aku mengambil keputusan dan memberanikan diri untuk konsultasi ke tenaga profesional.

Oke fine, mungkin dia adalah satu dari sekian banyak manusia yang tidak aware mengenai mental health issues. Dan aku maklum meski efek dari responnya membuatku jadi maju mundur lagi untuk pergi ke psikolog. Semalaman kupikirkan apakah aku berlebihan, apakah aku berlebihan, apakah aku ber lebih han???!

Tidak semua orang dapat menghargai memang, tapi aku sendiri dapat memilih untuk mengabaikannya atau tidak, bukan? Meski sempat mampir dipikiranku dan menimbulkan overthinking, tapi dengan berani aku putuskan untuk mengabaikannya!

Seperti ditulisanku sebelumnya, aku tengah berusaha menjadi manusia yang merdeka. Bebas dari penilaian dan ekspektasi oranglain. Because I love myself. Harta paling berhargaku adalah aku. Dengan menghargai diriku aku dapat menjadi diriku versi terbaik untuk orang-orang disekitarku terutama untuk orang yang kusayang.

Percayalah, tidak merdeka dan tidak sehat secara mental, orang terdekat kita dapat terkena dampaknya. Contohnya anakku. Aku ingin jadi diriku versi terbaik agar dapat menjadi ibu terbaik yang sehat lahir batin untuk anakku.

Semangat, gin! *peluk diri sendiri*

Selamat, ya!

Malam ini kuacungkan dua jempol untuk diriku sendiri, jika boleh aku ingin pinjam jempol punya suamiku tapi kebetulan beliau lagi pergi ke mesjid, jadi cukup jempol kiri dan kananku saja untuk mengapresiasi diriku yang hebat malam ini!

Sebagai seorang manusia yang ekstra introvert, super nggak enakan dan cenderung memendam perasaan, melontarkan isi hati adalah suatu tindakan yang too much menurutku. Tapi hati kecilku sadar bahwa aku punya hak untuk mengutarakan perasaanku yang dalam pikirku akan jadi masalah besar, meski logikaku seringkali mengkoreksi jika itu tidak benar! Atau lebih tepatnya hanyalah sebatas perasaanku saja.

Yap. Malam ini meski masih belum dapat bicara secara langsung tapi aku sudah berani menyatakan rasa kecewaku kepada salah seorang teman kerja. You’re great, egin! Karena itu hal yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Ternyata tidak seburuk yang aku pikirkan. Semuanya berjalan biasa saja dan hatiku terasa jauh lebih lega.

Well, demi kesehatan mentalku. Perlahan aku mau memerdekakan diriku. Menjadi lebih berani dan mengurangi rasa nggak enakan yang sudah mengakar dalam diri. Sulit… sekali! But i’ll try. Aku ingin pakai hak berbicaraku yang seringnya direnggut oleh oranglain bahkan oleh rasa takutku sendiri.

Aku ingin merdeka dan aku ingin diriku menjadi aku yang tidak dihantui oleh ekspektasi dan penilaian orang lain.

Woooh…!!! Sulit ya, gin keinginan kamu? Tapi bukan suatu hal yang mustahil, memang. It will be a hardest thing I do, tapi it’s okay.

Semangat, gin! Dan, selamat ya! *tepokin bahu sendiri*

Bertahan

Hampir tiga bulan menjalankan rutinitas baru, dari semangat menjadi biasa saja kemudian bosan. Terkadang aku lupa kalau aku perlu ikhlas dan aku lupa jika semua yang kukerjakan ini landasannya harus ibadah. Karena hingga detik ini hati kecilku selalu bilang “kamu tengah bertahan”

Terimakasih ya Egin, kamu kuat dan hebat!